Kamis, 28 Oktober 2021

😊😊😊😊😊

    Tidak mudah mencari jodoh di tempat kelahiran, bisa jadi karena stok ikhwannya yang limit. Tapi saya masih bersantai ria dengan hal itu, karena saya sudah memutuskan untuk menunggu seseorang.hmmmm 
    Hingga karakter saya yang keras kepala alias pemberontak di mata murobbi membuat murrobi mencari beberapa proposal Ikhwan. Untuk apalagi kalau bukan disampaikan ke saya sebagai bahan pertimbangan jodoh. Meskipun sudah menunggu seseorang, tapi terasa dzalim bagi Ikhwan jika saya menolak dengan alasan tersebut, karena bisa jadi dia lebih sholeh di mata Allah. Maka setiap mempertimbangkan, saya selalu berusaha menetralkan hati dan diskusi dengan murobbi. Dan alhasil, nihil. Kecenderungan itu masih ada, saya masih memutuskan untuk menunggu. 
    Proposal Ikhwan yang menjadi suami saya sekarang pun sampai ke tangan. Lama tak ada tanggapan. Iya, saya masih memutuskan untuk menunggu.
    Ada rangkaian momen yang kemudian membuat saya berpikir, ada yang salah. Niat yang awalnya ingin menjaga hati, menjadi pertanyaan besar bagi saya. Saya sedang menjaga hati atau sedang merusak hati? Bukankah ketika ada sesuatu yang pasti di depan kita dan kita memutuskan menunggu, maka kita sedang merusak hati? Merusak karena tak tahu berapa lama lagi kita menunggu. Merusak karena tidak tahu berapa Ikhwan lagi yang harus terdzalimi karena alasan menunggu itu. 
    Murobbi pun menyarankan saya untuk ta’aruf terlebih dahulu dengan Ikhwan yang menjadi suami saya sekarang meskipun belum tertarik. Dari titik inilah sampai halal kemudian Maha Dasyat Allah dalam berketetapan. Proses setelah ta’aruf benar-benar dibuat sedemikian rupa oleh Allah hingga saya tidak bisa lagi mundur. 
   Ketika ditanya saya sudah melupakan orang yang saya tunggukah hingga detik kehalalan? Jawabannya masih sama, hati saya masih ingin menunggu. 
    Tapi ada yang kemudian saya pahami lebih dalam, bahwasanya Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita lebih dari kita sendiri terhadap diri kita. Allah tahu siapa yang lebih membutuhkan kita, Allah tahu tempat dimana kita lebih dibutuhkan. 
    Dan karena Allah yang memilihkan, maka tak ada celah pun bagi kita harusnya untuk bersu’udzan pada Allah. Maka pada detik itu pun saya berdo’a agar Allah limpahkan kebahagiaan kepada orang yang saya tunggu. Dan Alhamdulillah kini ia pun sudah menemukan kebahagiaannya.
    Ingat, menjaga hati itu amanah dari awal hingga akhir. Tak harus orang yang dulu kita tunggu tahu kalau dulu kita pernah menunggu, Maka dari titik kehalalan, amanah dari Allah bagi kita untuk menjaga hati kita dan hati semua orang. 
    Dari titik kehalalan, usaha untuk mencari segenap alasan dalam mencintai imam harus dilakukan. Tapi makin dalam saya menyadari, mencintai itu tidak butuh alasan. Cukup Allah yang menjadi alasan. Dan karena Allah pula yang memilihkan, maka tak akan Allah tinggalkan ikhtiar kita menuju Sakinah mawadah warrahmah hingga Jannah. Aamiin, inyaAllah.😊

Senin, 03 Maret 2014

Ya Allah, dengan Al-Qur’an. Karuniakanlah kasih sayang-Mu kepada kami. Jadikan Al-Qur’an sebagai iman, cahaya, hidayah, dan sumber rahmat bagi kami.
Ya Allah, ingatkan kami bila ada ayat yang kami lupa mengingatnya. Ajarkan pada kami, ayat yang kami bodoh memahaminya. Karuniakanlah pada kami kenikmatan membacanya, sepanjang waktu, baik tengah malam atau tengah hari. Jadikan Al-Qur’an bagi kami sebagai hujjah, ya Rabbal ‘Alamin.
Ya Allah, karuniakan kebaikan bagi kami dalam beragama yang merupakan kunci kehormatan bagi kami. Karuniakan kebaikan kami di dunia, yang merupakan tempat kami menjalani hidup. Karuniakan kebaikan akhirat bagi kami, yang merupakan tempat kami kembali. Jadikan kehidupan kami sebagai kebebasan kami dari segala keburukan.
Ya Allah, jadikan umur terbaik kami di penghujungnya, jadikan amal terbaik kami di penutupnya, jadikan hari-hari terbaik kami saat bertemu dengan-Mu.
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kehidupan yang jembar, kematian yang normal, dan tempat kembali yang tidak menyedihkan dan terhindar dari prahara.
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu permintaan terbaik, doa terbaik, kesuksesan terbaik, ilmu terbaik, amal terbaik, pahala terbaik. Kuatkanlah kami, beratkanlah timbangan kebajikan kami, realisasikan keimanan kami, tinggikan derajat kami, terima shalat kami, ampuni dosa-dosa kami dan kami memohon surga tertinggi.
Ya Allah, kami memohon karunia yang wajib Engkau berikan, ampunan yang harus Engkau karuniakan, keselamatan dari segala dosa, ghanimah dari segala kebajikan, dan kemenangan mendapat surga, serta keselamatan dari api neraka.
Ya Allah, karuniakan kebaikan bagi kami dalam segala urusan, berikan pahala kepada kami dari segenap luka dunia dan siksa akhirat.
Ya Allah, anugerahkan untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepada-Mu, dan anugerahkanlah ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan kami ke surga-Mu, anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengarn, penglihatan dan dalam kekuatan selama kami hidup dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau jadikan musibah kami ada dalam urusan agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia ini adalah cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami. Jangan Engkau jadikan berkuasa atas kami, orang-orang yang tidak mengasihi kami.
Ya Allah, jangan pernah Engkau tinggalkan dosa, melainkan Engkau ampuni. Tidak ada kegalauan kecuali Engkau berikan jalan keluar, tidak ada utang kecuali Engkau penuhi, dan tidak ada satu kebutuhan dunia dan akhirat kecuali Engkau penuhi, wahai Tuhan seluruh alam.
Ya Rabb kami, berikan kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, serta jagalah kami dari api neraka.
Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah curah kepada Nabi Muhammad, keluarga, serta para sahabat terpilih.  


Kamis, 21 Februari 2013

Nostalgia Juli


         Juli 2002. Peristiwa yang mengantarkanku pada pembelajaran ikhlas yang sejatinya selalu bersemayam di dalam hati masing-masing insan. Begitu lelapnya rasa itu bersemayam hingga terkadang tak mampu terbangun tepat pada saat dia dibutuhkan.
      Pengalaman menyejarah mengenai sosok yang menginspirasi sepanjang riwayat hidup. Beliau paman yang baik, lahir dari keluarga yang sederhana dari enam bersaudara. Pendidikan formal, pendidikan salah satu pesantren di daerah Jawa Timur, semua dilaksanakan dengan sewajarnya. Prinsip untuk hidup tanpa menjadi beban bagi orang lain membuat beliau lekas mencari pekerjaan yang sekiranya dapat menghasilkan uang untuk biaya hidup. Sales keliling.
      Transformasi ilmu perjuangan itu mulai nikmat mengalir di otakku yang masih kosong. Serasa ganjil dalam kepemahaman kecilku yang amat dangkal. Sholat, wudhu, Al-Qur’an dan beberapa hal-hal lain yang membuatku semakin bangga pada beliau.
       Seiring berjalannya waktu, langkah petualangan beliau telah menapaki Jakarta hingga keberuntungan menjadi koki di salah satu restoran sederhana menghampiri. Warteg. Kenikmatan akan penghormatan sebagai koki itu diresapi beliau selama bertahun-tahun.
        Singkat cerita, beliau mulai nyaman dengan pekerjaannya sebagai seorang koki. Tapi jangan anggap enteng lelaki yang satu ini, pekerjaan koki yang mulai memasuki tahap semipermanen harus berkolaborasi kini dengan beberapa pekerjaan lainnya. Satu tujuan yang menguatkan. Modal pendirian perusaahan counter yang beliau idamkan.
         Tak ada yang tahu darimana segala warisan sifat-sifat itu mengalir dalam diri beliau. Reparasi segala alat elektronik beliau layani dengan kemampuan pembelajar cepat. Satu hal yang terlupakan. Istirahat.
         Tragedi itu terjadi tepat beberapa hari sebelum menginjak usiaku yang kesepuluh di tahun 2002. Ketika panggilan perbaikan AC di lantai tiga salah satu gedung di kawasan Mangga Besar Jakarta beliau terima. Pernah membayangkan rasanya jatuh dari lantai tiga sebuah gedung bertingkat di Ibu kota?
           Raungan sirine siang itu, gerombolan orang yang berdesak-desakkan hingga membuat rumah seakan tak memiliki celah untuk bergerak bebas. Tangisan yang terpecah dan meraung dari setiap sudut mata angin. Kesadaranku masih belum menemukan keyakinannnya untuk percaya bahwa sosok yang keluar dari ambulance berselimut kain ketika itu adalah paman yang dulu mengajariku banyak hal. Menyesal. Aku bahkan tidak melihat wajah terakhir beliau hanya dengan satu alasan ketidaktegaan.
       Samar. Tapi aku mampu merasakannya. Semangat beliau, aliran naluri berbaginya, cara beliau menikmati hidup hingga saat ini masih membuatku iri. Setidaknya satu hal yang ku petik dari perjalanan beliau selama ini. Waktu.

Minggu, 27 Januari 2013

Modal itu bernama Keberanian



       Hari itu berjalan sewajarnya, bangun, pergi ke mushola dan lekas membantu persiapan dagang ibu. Lebih dari sebulan menjalani hidup sebagai pengangguran pasca pengumuman kelulusan SMA, tekad untuk merajut mimpi di kota seberang pun terasa kembang-kempisnya. Zona nyaman memang sempat melenakanku kala itu, begitu nyamannya hingga membuat perjuangan SNMPTN dan petualangan mendapatkan beasiswa seperti lingkaran de javu yang berkutat di otakku. Lamanya penantian dan tawaran kerja yang kerap datang semakin berdampak pada keyakinan masa SMA yang terasa pudarnya. “Kuliah tanpa membebani orang tua”, apakah bisa? Beruntung, pengalaman terburuk masa kecil ternyata justru ditakdirkan Alloh untuk membangun keyakinan kembali. Masih teringat sosok yang hingga hembusan nafasnya terakhir berada dalam kondisi memperjuangkan mimpinya, paman memang masih menjadi inspirasiku saat ini. Tapi bukan cerita melankolis masa lalu yang ingin aku diskripsikan disini.
       Hingga bangunan puing-puing keyakinan itu kokoh kembali, aku mulai sadar bahwa kolaborasi kondisi saat itu sungguh indah untuk dikenang. “Selamat mbak, sampeyan lolos SNMPTN dipilihan pertama”, sms dari salah satu temanku itu memunculkan rasa ketidakpercayaan yang terasa jelas di hati. Hingga esok pagi, enam serangkai yang termasuk aku di dalamnya memutuskan untuk memastikan informasi di sudut warnet yang lama nian proses loadingnya. Benar saja “Aku diterima di fakultas Peternakan Universitas Diponegoro”, bingung harus berperasaan seperti apa ketika aku tahu tak satupun dari sahabatku diterima di Universitas yang dituju. Karaguanku yang muncul mulai bergelayut kembali saat orangt tua pun tak sepakat dengan jurusan yang aku pilih. Alasan prospek kerja lah, biaya lah, inilah, itulah, segenap alasan dipaparkan secara jelas oleh orang tuaku hanya untuk melunturkan keyakinan yang mulai ku bangun kembali. Aku yang terkenal keras kepala di keluarga memang tidak terlalu mencernanya, hingga harus menggurus semuanya sendiri tanpa sepengetahuan mereka pun aku laksanakan. Satu alasan, bukan karena aku ingin  membangkang, tapi inilah caraku, tak perlu mereka meneteskan air mata untuk jatuh bangunku memperjuangkan impian, yang aku butuhkan hanya senyum bahagia dan tulus dari mereka. Asal tak jadi beban bagi mereka maka itu yang aku pilih, maklum darah muda masih panas mengalir di dalam tubuhku saat itu.
        Penantian kedua mulai terjawab, meskipun harus berkali-kali memastikan. Ucapan “Selamat bergabung dalam keluarga besar BeaStudi Etos Semarang” itu bagai oase di tengah dahaga akan kepastian beasiswa yang aku perjuangkan selama ini. Bolak-balik Semarang tanpa orangtua tahu tujuannya itupun terasa tak memberatkan ketika diingat. Kini aku menyandang dua gelar, mahasiwa UNDIP dan gelar sebagai seorang Etoser. Pijakan kaki untuk pertama kalinya dikampus UNDIP membuat gadis desa sedikit takjub memang, termasuk aku. Meskipun setelah beberapa tahun kemudian terasa biasa, namun berbeda dengan pijakan pertamaku di Asrama Etos Putri. Teman baru yang makin lama seperti keluarga ini tidak akan pernah memunculkan kesan “biasa” meskipun setiap hari bertatap muka, bagiku mereka adalah orang-orang luar biasa setiap harinya karena dari mereka pelajaran-pelajaran berharga ku petik. Di kelilingi orang-orang dasyat membuatku  sempat berucap “terimakasih ya Alloh telah membuatku tersesat di jalan yang benar”. Namun berbeda paradigma sekarang, aku tidak pernah merasa tersesat, karena lentera di sekitar sangat jelas menunjukkan jalan.
       Awal menjadi maba harus menjalani masa penerimaan Mahasiswa Baru, ternyata Beastudi Etos Semarang pun menyiapkan perjamuan tak terlupakan bagi para etoser baru. Air mata yang tak hentinya menetes, maaf saja bukan karena cengeng, tapi perjalanan spiritual yang di desain meskipun hanya dengan waktu semalam cukup membuat pencerahan tersendiri bagi orang-orang yang bisa dibilang amah sepertiku. Pembinaan harian, pekanan, bahkan tahunan benar-benar kolaborasi permodalan yang sangat berarti untuk menghadapi hidup yang sesungguhnya, bukan hanya bicara tentang diri-sendiri. Rancangan desainnya mengkondisikan kita untuk selalu mengasah kepekaan, bukan sekedar peka rasa tetapi juga peka action.
         Permodalan yang sudah diberipun dapat langsung diaplikasikan dalam jabatanku sebagai seorang mahasiswa. Membuat life mapping, berani menuliskan impian, belajar berorganisasi terasa lengkap memang, tapi hidup tidak bicara tentang stagnansi terhadap kepuasaan dan kebanggaan yang di dapat. Menabung prestasi tanpa bermanfaat bagi orang lain pun percuma, maka kegiatan berbagi pun dimulai baik pemberdayaan masyarakat dan kegiatan sosial lain. Masing-masing daerah penerima Beastudi Etos memang memiliki desa partner, terkhusus wilayah Semarang yakni Rowosari yang populer dengan Banana Village-nya. Sentuhan di bidang sosial, kesehatan, pendidikan dan ekonomi terwujud dalam kegiatan ringan yang kontinyu pula seperti pengajaran TPQ, senam pagi ataupun kegiatan isidental di hari besar.
          Prestasi etoser memang membuat iri, go internasional, mawapres, pemenang lomba karya tulis ilmiah, lolos PIMNAS, IP 4,00, dan prestasi-prestasi lainnya. Aku sendiri berkaca, “apakah benar aku bisa menjadi etoser yang benar-benar etoser?”, mampu berprestasi dan bermanfaat bagi orang lain. Butuh proses memang dan ambisi hanya akan membinasakan, jalani hidup dengan semangat dan senyum jika salah satu etoser katakan. Kunci yang aku temukan dari kesuksesan para etoser itu adalah keberanian. Keberanian untuk bermimpi dan mencoba, meskipun tahu, ternyata dalam praktiknya butuh himpunan energi yang besar juga. 
            Kondisi kampus tak jauh berbeda, namun ada sedikit pembeda. Proyeksi, mekanisme itu benar-benar terasa. Tidak untuk mengendalikan, pada dasarnya hidup adalah pilihan dan yang memilih adalah yang punya hidup yakni masing-masing individu yang bernyawa. Tiga proyeksi utama dan tinggal memilih ingin berprestasi dan bermanfaat di proyeksi manakah kita. Aku sendiri mulai merasakan atmosfer itu, setiap orang memiliki jalan dan cara tersendiri untuk berprestasi karena indikator prestasi bukan orang lain tetapi diri-sendiri.

Rabu, 13 Juli 2011

Kaya Bencana Alam atau Kaya Bencana Moral Negeri Kita ini?


Saudara setanah airku, betapa kelu lidah ini untuk melontarkan ratapan nasib bahkan umpatan kepada para pejabat-pejabat berdasi yang duduk berwibawa di Istana negara ini. Ketokan palu atas beberapa kebijakan yang entah kemana muara kebermanfaatannya, kegiatan bertatap muka yang hanya menghambur–hamburkan dana negara untuk menghasilkan perdebatan yang justru menambah kuantitas jeritan rakyat pun seakan tidak menjadi evaluasi atas kebobrokan negeri ini. Melalui tulisan ini ku sampaikan jeritan hati yang kian lama makin menyesakkan dada untuk bernafas. Ingatkah engkau saudaraku akan tiga bencana besar yang menimpa negara ini pada bulan Oktober 2010, kabupaten Wasior yang dilanda banjir bandang pada 4 Oktober, kepulauan Mentawai yang terkena bencana tsunami pada 25 Oktober serta gunung merapi yang mengeluarkan isi perutnya pada tanggal 26 Oktober hingga menambah lengkap tangisan jiwa-jiwa yang tertimpa. Begitu berdosakah negeri ini hingga Tuhan tidak segan untuk melimpahkan bencana itu pada negeri ini, ataukah otak kita yang terlalu bebal untuk memahami karunia berlebih yang diberikan tersebut.
          Terlalu mudahkah kita dalam menyebut setiap karunia berlebih itu sebagai bencana, padahal pada tanggal 29 Mei 2006 silam terdapat salah satu fenomena penyedot perhatian masyarakat yakni pengeboran minyak bumi di daerah Porong yang mengakibatkan kontinuitas semburan lumpur panas hingga saat ini. Sungguh tragis jika pemerintah dengan tegas menyebut bahwa peristiwa tersebut sebagai suatu bencana dari Dzat yang menciptakan muka bumi ini karena pada dasarnya hal tersebut merupakan kesalahan fatal yang dilakukan oleh salah satu perusahaan ternama di Indonesia. Begitu mudahnya orang-orang berpunya untuk melimpahkan segala kesalahan kepada Tuhannya sendiri hanya dengan menyebut hasil dari kinerja yang diperoleh sebagai suatu bencana.
          Meskipun ratusan atau bahkan ribuan jiwa menjadi korban akibat bencana yang hadir, namun rasa syukur tidak bisa terhindarkan saat melihat semangat solidaritas masyarakat yang berlomba – lomba memberikan bantuan kepada kita  yang tertimpa kemalangan. Solidaritas yang dibangun oleh rakyat dalam membantu korban bencana alam, jelas tanpa kepemimpinan dari kalangan pejabat mentereng. Solidaritas itu muncul dengan spontan dari rakyat yang peduli dan ingin membantu saudara-saudaranya yang tertimpa bencana alam. Banyak akhirnya yang mempertanyakan kehadiran negara dalam menangani bencana alam di Indonesia. Bahkan kita tahu, berapa banyak pejabat yang sedang menikmati kepuasan harta yang didapat dengan dalih menjalankan perjalanan dinas ke luar negeri, padahal  mereka sepantasnya meluangkan waktu untuk mendampingi dan memberikan dukungan moral serta memastikan rakyatnya selamat dari bencana alam, tetapi fakta yang terjadi mereka malah melarikan diri. Inikah bentuk pelepasan tanggung jawab para pejabat negara terhadap penanganan bencana alam yang melanda negeri? Dulu para penjajah mengatakan bahwa negeri kita ini kaya akan sumber daya alam, namun dengan pola pikir yang saat ini kita miliki, masih pantaskah kita mendapat gelar tersebut. Kaya akan sumber daya alam ataukah kaya akan bencana negeri kita ini? Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh tanah air ini tentulah diiringi dengan berbagai resiko yang akan muncul sewaktu-waktu. Moral sumber daya manusia yang semakin amburadul dalam upaya pemanfaatan sumber daya tersebut merupakan salah satu faktor penyebab semakin menjadi-jadinya amukan alam yang ada.
          Berkenaan dengan bencana alam yang terjadi, kita mungkin dapat bernafas lega untuk sejenak karena pasalnya telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelanggaraan Penanggulangan Bencana. Peraturan tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa negara Indonesia yang terdiri dari gugusan kepulauan mempunyai potensi bencana yang sangat tinggi dan juga sangat bervariasi dari aspek jenis bencana. Kondisi alam tersebut dilengkapi dengan keanekaragaman penduduk dan budaya sehingga menyebabkan timbulnya risiko bencana ulah manusia dan kedaruratan kompleks, meskipun disisi lain Indonesia juga kaya akan sumberdaya alam. Penyelenggaraan penanggulangan bencana yang ada dalam peraturan tersebut berisi tentang serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi. Aplikasinya pun dilakukan melalui tiga tahap yaitu pra bencana, saat tanggap darurat dan pasca bencana.
          Selain itu terdapat pula kerjasama bilateral yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan pemerintah Jepang pada bulan Juni 2005 tentang “Komunike Bersama Tentang Bantuan Kerjasama Bilateral untuk Menekan Korban Bencana Alam”, ditambah lagi kesepakatan mengenai arah kebijakan penanganan bencana alam di Indonesia yang dituangkan kedalam “Building the Resilience of Indonesia and its Communities to Disasters for the Next Generation” tanggal 24 Juli 2006 pada pertemuan ke 2 Komite, Utusan Khusus Kabinet (bidang Bencana Alam) Tetsuo Kutsukake dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakri yang semakin mempertegas perhatian pemerintah terhadap bencana yang kerap menjadi tamu tak diundang di tanah air ini. Namun yang patut dipertanyakan adalah realitas penerapan kebijakan yang telah dibuat, apakah sudah efektif ataukah hanya sekedar kebijakan yang dijadikan cover untuk mengobral perhatian belaka.
          Jika dada kini sedikit leluasa bernafas untuk melihat kebijakan penanggulangan bencana alam yang telah ditetapkan dan beberapa kebijakan pemerintah, sekarang bagaimanakah kebijakan yang disusun oleh pemerintah berkenaan dengan bencana moral yang menjangkit sumber daya manusia di Indonesia ini. Jangkitan bencana moral ini bahkan bisa dikatakan sudah akut bagi kalangan pejabat yang buta hatinya. Lihat saja fenomena-fenomena yang ada atas ketidakjelasan beberapa anggaran negara seperti kasus dugaan suap dalam proyek pembangunan wisma atlet SEA Games 2011 Palembang yang masih aktual diperbincangakan, kasus bank Century yang sampai sekarang belum jelas ujung penyelesaiannya, efektivitas pembanguan gedung DPD di 33 Provinsi se-Indonesia yang mencapai Rp 823 miliar, kasus suap untuk pemilihan deputi gubernur senior di BI pada 2004, besaran tunjangan pulsa telepon untuk anggota DPR dan masih banyak kejanggalan tentang muara penggunaan anggaran negara yang telah mengalir. Begitu banyaknya peristiwa yang membuat kita harus menggeleng-gelengkan kepala, maka dari itu evaluasi tentang segala keputusan pemerintah memang harus dipertegas. Kini degradasi moral tidak hanya terjadi dikalangan pejabat berdasi yang mengaku sebagai wakil rakyat, tetapi juga merambah kedalam ranah aksi penegak hukum yang sekarang makin gemar menerima uang suap dari beberapa tersangka yang diadili. Sebut saja ketua majelis hakim Muhtadi Asnun yang menangani kasus Gayus Tambunan, kemudian hakim Syarifudin dan beberapa hakim-hakim lainnya yang semakin menambah kasus mafia peradilan di Indonesia ini. Hakim merupakan salah satu pilar penegak hukum selain jaksa dan polisi, namun melihat fakta yang ada sangat sulit untuk mensterilkan pilar-pilar tersebut dari yang namanya korupsi. “Ironis”, mungkin itulah kata yang cocok untuk menggambarkan ketidakseimbangan konsep dan action yang dilaksanakan oleh pemerintah. Saat pemerintah sedang gencar-gencarnya menetapkan peraturan tentang penanggulangan bencana alam yang terjadi, justru penanganan terhadap bencana moral yang ada kian terpontang-panting. Keefektifan dari segenap kebijakan yang ada pun perlu dikoreksi, tidak hanya sekedar menetapkan kebijakan untuk kemudian dilakukan koreksi saja tetapi juga diiringi dengan aplikasi yang nyata, tepat, tegas dan kontinue dari pemerintah.

Sabtu, 25 Desember 2010

Politik peternakan Indonesia?!!!!gimana ya???

KEMAUAN politik pemerintah terhadap pembangunan peternakan dinilai masih rendah dan bahkan sejumlah kebijakan justru merugikan banyak peternak. Salah satunya dengan lahirnya undang-undang tentang peternakan dan kesehatan hewan pertengahan Mei 2009 lalu terutama menyangkut pasal zoning impor sapi ataupun daging sapi sebagai bukti betapa pemerintah kurang peduli terhadap dunia peternakan, khususnya sapi dan kerbau.

Padahal usaha peternakan di Indonesia mempunyai prospek yang sangat baik, terbukti permintaan produk ternak terus meningkat dari tahun ke tahun seirama dengan pertambahan penduduk dan perkembangan perekonomian nasional.

Menurut Dirjen Peternakan Deptan tahun2006, populasi sapi potong di Indonesia sekitar 10,6 juta ekor. Konsumsi daging sapi nasional mencapai 365,5 ribu ton sedangkan penyediaan daging dalam negeri 252 ribu ton. Dengan kondisi tersebut terlihat selisih antara konsumsi dan produksi daging sebesar 29%, yakni mencapai 104,4 ribu ton atau sekitar 740 ribu ekor.

Sementara itu, konsumsi daging tahun 2010 diperkirakan mencapai 414,4 ribu ton sedangkan produksi jika tanpa upaya percepatan akan menurun menjadi 231,8 ribu ton dan tentunya selisih antara konsumsi dan produksi semakin besar yaitu 44 persen atau kekurangan 182,3 ribu ton atau setara 1,29 juta ekor. Penurunan disebabkan diantaranya oleh pemotongan sapi betina produktif yang masih tinggi mencapai 200 ribu ekor per tahun.

Adanya perubahan ketentuan impor daging dari sistem negara (country base) menjadi sistem zona (zona base) beresiko besar terhadap keberlanjutan peternakan sapi di Indonesia. Ketentuan impor daging sapi atau sapi hidup dengan sistem zona base sangat memungkinkan masuknya daging dan sapi dari negara-negara yang selam ini belum terbebas dari PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) yang sangat membahayakan.

Berbeda dengan sistem country base yang diterapkan sebelum UU baru lahir, ketentuan impor dibatasi untuk negara-negara yang selama ini memang sudah terbebas dari PMK seperti Kanada, Amerika, New Zeland, Australia, dan sebagainya. Sementara itu, sampai sekarang masih banyak negara yang belum terbebas dari PMK di antaranya China, Malaysia, Brazil, Argentina dan sebagainya.

Jika daging dan sapi dari negara-negara yang belum terbebas dari PMK itu bisa masuk ke Indonesia, diyakini akan memunculkan gejolak terhadap dunia peternakan di Indonesia.
Sungguh ironis akan lahirnya kebijakan baru ini, karena tidak memberi proteksi terhadap peternak dalam negeri, sebaliknya justru memunculkan ancaman baru. Di negara mana pun, peternak memperoleh proteksi lewat berbagai cara agar mampu berkembang dengan baik, tetapi yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya.

Kurangnya Pemahaman
Masih sangat rendahnya kemauan politik pemerintah terhadap dunia peternakan kemungkinan disebabkan kekurang pekaan pemerintah terhadap subsektor peternakan termasuk di dalamnya ternak sapi. Padahal, potensi peternakan sapi di Indonesia sangat besar, walaupun pada umumnya usaha ternak sapi dikelola para petani dalam skala kecil, yakni hanya berkisar 1-4 ekor per peternak.

Mestinya pemerintah menyikapinya secara bijaksana dan berpikir dalam jangka panjang, yakni diantaranya dengan membantu pemecahan persoalan dan memfasilitasi hal-hal yang selama ini menjadi kendala peternak sehingga sulit berkembang agar nantinya para peternak mampu mengembangkan usaha ternak hingga tumbuh menjadi usaha berkala besar dan pada akhirnya nanti suplai pemenuhan daging sapi bisa disuplai oleh peternak dalam negeri
 
Dalam jangka panjang tidaklah dapat dipungkiri bahwa permintaan terhadap komoditas-komoditas peternakan akan terus meningkat seiring dengan adanya pertambahan penduduk, peningkatan pendapatan, perbaikan tingkat pendidikan, urbanisasi, perubahan gaya hidup dan peningkatan kesadaran akan gizi yang seimbang. Kondisi ini mencerminkan bahwa bisnis di bidang subsektor peternakan ke depan tetap memiliki prospek pasar yang baik dan berkelanjutan.

Upaya-upaya perbaikan perlu terus dilakukan. Pemerintah wajib mendorong dan memproteksi rakyatnya yang sedang berwirausaha dibidang subsektor peternakan khususnya yang berada di pedesaan.
Jika ada dukungan-dukungan pihak-pihak terkait seperti perusahaan peternakan skala besar, dukungan saran san prasarana pemerintah yang memadai, serta terlebih lahi dengan adanya proteksi agrobisnis peternakan domestik, maka diharapkan bisa semakin memotivasi terwujudnya swaswmbada daging dalam negeri.