Tidak mudah mencari jodoh di tempat kelahiran, bisa jadi karena stok ikhwannya yang limit. Tapi saya masih bersantai ria dengan hal itu, karena saya sudah memutuskan untuk menunggu seseorang.hmmmm
Hingga karakter saya yang keras kepala alias pemberontak di mata murobbi membuat murrobi mencari beberapa proposal Ikhwan. Untuk apalagi kalau bukan disampaikan ke saya sebagai bahan pertimbangan jodoh. Meskipun sudah menunggu seseorang, tapi terasa dzalim bagi Ikhwan jika saya menolak dengan alasan tersebut, karena bisa jadi dia lebih sholeh di mata Allah. Maka setiap mempertimbangkan, saya selalu berusaha menetralkan hati dan diskusi dengan murobbi. Dan alhasil, nihil. Kecenderungan itu masih ada, saya masih memutuskan untuk menunggu.
Proposal Ikhwan yang menjadi suami saya sekarang pun sampai ke tangan. Lama tak ada tanggapan. Iya, saya masih memutuskan untuk menunggu.
Ada rangkaian momen yang kemudian membuat saya berpikir, ada yang salah. Niat yang awalnya ingin menjaga hati, menjadi pertanyaan besar bagi saya. Saya sedang menjaga hati atau sedang merusak hati? Bukankah ketika ada sesuatu yang pasti di depan kita dan kita memutuskan menunggu, maka kita sedang merusak hati? Merusak karena tak tahu berapa lama lagi kita menunggu. Merusak karena tidak tahu berapa Ikhwan lagi yang harus terdzalimi karena alasan menunggu itu.
Murobbi pun menyarankan saya untuk ta’aruf terlebih dahulu dengan Ikhwan yang menjadi suami saya sekarang meskipun belum tertarik.
Dari titik inilah sampai halal kemudian Maha Dasyat Allah dalam berketetapan. Proses setelah ta’aruf benar-benar dibuat sedemikian rupa oleh Allah hingga saya tidak bisa lagi mundur.
Ketika ditanya saya sudah melupakan orang yang saya tunggukah hingga detik kehalalan? Jawabannya masih sama, hati saya masih ingin menunggu.
Tapi ada yang kemudian saya pahami lebih dalam, bahwasanya Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita lebih dari kita sendiri terhadap diri kita. Allah tahu siapa yang lebih membutuhkan kita, Allah tahu tempat dimana kita lebih dibutuhkan.
Dan karena Allah yang memilihkan, maka tak ada celah pun bagi kita harusnya untuk bersu’udzan pada Allah. Maka pada detik itu pun saya berdo’a agar Allah limpahkan kebahagiaan kepada orang yang saya tunggu. Dan Alhamdulillah kini ia pun sudah menemukan kebahagiaannya.
Ingat, menjaga hati itu amanah dari awal hingga akhir. Tak harus orang yang dulu kita tunggu tahu kalau dulu kita pernah menunggu, Maka dari titik kehalalan, amanah dari Allah bagi kita untuk menjaga hati kita dan hati semua orang.
Dari titik kehalalan, usaha untuk mencari segenap alasan dalam mencintai imam harus dilakukan. Tapi makin dalam saya menyadari, mencintai itu tidak butuh alasan. Cukup Allah yang menjadi alasan. Dan karena Allah pula yang memilihkan, maka tak akan Allah tinggalkan ikhtiar kita menuju Sakinah mawadah warrahmah hingga Jannah. Aamiin, inyaAllah.😊