Kamis, 21 Februari 2013

Nostalgia Juli


         Juli 2002. Peristiwa yang mengantarkanku pada pembelajaran ikhlas yang sejatinya selalu bersemayam di dalam hati masing-masing insan. Begitu lelapnya rasa itu bersemayam hingga terkadang tak mampu terbangun tepat pada saat dia dibutuhkan.
      Pengalaman menyejarah mengenai sosok yang menginspirasi sepanjang riwayat hidup. Beliau paman yang baik, lahir dari keluarga yang sederhana dari enam bersaudara. Pendidikan formal, pendidikan salah satu pesantren di daerah Jawa Timur, semua dilaksanakan dengan sewajarnya. Prinsip untuk hidup tanpa menjadi beban bagi orang lain membuat beliau lekas mencari pekerjaan yang sekiranya dapat menghasilkan uang untuk biaya hidup. Sales keliling.
      Transformasi ilmu perjuangan itu mulai nikmat mengalir di otakku yang masih kosong. Serasa ganjil dalam kepemahaman kecilku yang amat dangkal. Sholat, wudhu, Al-Qur’an dan beberapa hal-hal lain yang membuatku semakin bangga pada beliau.
       Seiring berjalannya waktu, langkah petualangan beliau telah menapaki Jakarta hingga keberuntungan menjadi koki di salah satu restoran sederhana menghampiri. Warteg. Kenikmatan akan penghormatan sebagai koki itu diresapi beliau selama bertahun-tahun.
        Singkat cerita, beliau mulai nyaman dengan pekerjaannya sebagai seorang koki. Tapi jangan anggap enteng lelaki yang satu ini, pekerjaan koki yang mulai memasuki tahap semipermanen harus berkolaborasi kini dengan beberapa pekerjaan lainnya. Satu tujuan yang menguatkan. Modal pendirian perusaahan counter yang beliau idamkan.
         Tak ada yang tahu darimana segala warisan sifat-sifat itu mengalir dalam diri beliau. Reparasi segala alat elektronik beliau layani dengan kemampuan pembelajar cepat. Satu hal yang terlupakan. Istirahat.
         Tragedi itu terjadi tepat beberapa hari sebelum menginjak usiaku yang kesepuluh di tahun 2002. Ketika panggilan perbaikan AC di lantai tiga salah satu gedung di kawasan Mangga Besar Jakarta beliau terima. Pernah membayangkan rasanya jatuh dari lantai tiga sebuah gedung bertingkat di Ibu kota?
           Raungan sirine siang itu, gerombolan orang yang berdesak-desakkan hingga membuat rumah seakan tak memiliki celah untuk bergerak bebas. Tangisan yang terpecah dan meraung dari setiap sudut mata angin. Kesadaranku masih belum menemukan keyakinannnya untuk percaya bahwa sosok yang keluar dari ambulance berselimut kain ketika itu adalah paman yang dulu mengajariku banyak hal. Menyesal. Aku bahkan tidak melihat wajah terakhir beliau hanya dengan satu alasan ketidaktegaan.
       Samar. Tapi aku mampu merasakannya. Semangat beliau, aliran naluri berbaginya, cara beliau menikmati hidup hingga saat ini masih membuatku iri. Setidaknya satu hal yang ku petik dari perjalanan beliau selama ini. Waktu.

Minggu, 27 Januari 2013

Modal itu bernama Keberanian



       Hari itu berjalan sewajarnya, bangun, pergi ke mushola dan lekas membantu persiapan dagang ibu. Lebih dari sebulan menjalani hidup sebagai pengangguran pasca pengumuman kelulusan SMA, tekad untuk merajut mimpi di kota seberang pun terasa kembang-kempisnya. Zona nyaman memang sempat melenakanku kala itu, begitu nyamannya hingga membuat perjuangan SNMPTN dan petualangan mendapatkan beasiswa seperti lingkaran de javu yang berkutat di otakku. Lamanya penantian dan tawaran kerja yang kerap datang semakin berdampak pada keyakinan masa SMA yang terasa pudarnya. “Kuliah tanpa membebani orang tua”, apakah bisa? Beruntung, pengalaman terburuk masa kecil ternyata justru ditakdirkan Alloh untuk membangun keyakinan kembali. Masih teringat sosok yang hingga hembusan nafasnya terakhir berada dalam kondisi memperjuangkan mimpinya, paman memang masih menjadi inspirasiku saat ini. Tapi bukan cerita melankolis masa lalu yang ingin aku diskripsikan disini.
       Hingga bangunan puing-puing keyakinan itu kokoh kembali, aku mulai sadar bahwa kolaborasi kondisi saat itu sungguh indah untuk dikenang. “Selamat mbak, sampeyan lolos SNMPTN dipilihan pertama”, sms dari salah satu temanku itu memunculkan rasa ketidakpercayaan yang terasa jelas di hati. Hingga esok pagi, enam serangkai yang termasuk aku di dalamnya memutuskan untuk memastikan informasi di sudut warnet yang lama nian proses loadingnya. Benar saja “Aku diterima di fakultas Peternakan Universitas Diponegoro”, bingung harus berperasaan seperti apa ketika aku tahu tak satupun dari sahabatku diterima di Universitas yang dituju. Karaguanku yang muncul mulai bergelayut kembali saat orangt tua pun tak sepakat dengan jurusan yang aku pilih. Alasan prospek kerja lah, biaya lah, inilah, itulah, segenap alasan dipaparkan secara jelas oleh orang tuaku hanya untuk melunturkan keyakinan yang mulai ku bangun kembali. Aku yang terkenal keras kepala di keluarga memang tidak terlalu mencernanya, hingga harus menggurus semuanya sendiri tanpa sepengetahuan mereka pun aku laksanakan. Satu alasan, bukan karena aku ingin  membangkang, tapi inilah caraku, tak perlu mereka meneteskan air mata untuk jatuh bangunku memperjuangkan impian, yang aku butuhkan hanya senyum bahagia dan tulus dari mereka. Asal tak jadi beban bagi mereka maka itu yang aku pilih, maklum darah muda masih panas mengalir di dalam tubuhku saat itu.
        Penantian kedua mulai terjawab, meskipun harus berkali-kali memastikan. Ucapan “Selamat bergabung dalam keluarga besar BeaStudi Etos Semarang” itu bagai oase di tengah dahaga akan kepastian beasiswa yang aku perjuangkan selama ini. Bolak-balik Semarang tanpa orangtua tahu tujuannya itupun terasa tak memberatkan ketika diingat. Kini aku menyandang dua gelar, mahasiwa UNDIP dan gelar sebagai seorang Etoser. Pijakan kaki untuk pertama kalinya dikampus UNDIP membuat gadis desa sedikit takjub memang, termasuk aku. Meskipun setelah beberapa tahun kemudian terasa biasa, namun berbeda dengan pijakan pertamaku di Asrama Etos Putri. Teman baru yang makin lama seperti keluarga ini tidak akan pernah memunculkan kesan “biasa” meskipun setiap hari bertatap muka, bagiku mereka adalah orang-orang luar biasa setiap harinya karena dari mereka pelajaran-pelajaran berharga ku petik. Di kelilingi orang-orang dasyat membuatku  sempat berucap “terimakasih ya Alloh telah membuatku tersesat di jalan yang benar”. Namun berbeda paradigma sekarang, aku tidak pernah merasa tersesat, karena lentera di sekitar sangat jelas menunjukkan jalan.
       Awal menjadi maba harus menjalani masa penerimaan Mahasiswa Baru, ternyata Beastudi Etos Semarang pun menyiapkan perjamuan tak terlupakan bagi para etoser baru. Air mata yang tak hentinya menetes, maaf saja bukan karena cengeng, tapi perjalanan spiritual yang di desain meskipun hanya dengan waktu semalam cukup membuat pencerahan tersendiri bagi orang-orang yang bisa dibilang amah sepertiku. Pembinaan harian, pekanan, bahkan tahunan benar-benar kolaborasi permodalan yang sangat berarti untuk menghadapi hidup yang sesungguhnya, bukan hanya bicara tentang diri-sendiri. Rancangan desainnya mengkondisikan kita untuk selalu mengasah kepekaan, bukan sekedar peka rasa tetapi juga peka action.
         Permodalan yang sudah diberipun dapat langsung diaplikasikan dalam jabatanku sebagai seorang mahasiswa. Membuat life mapping, berani menuliskan impian, belajar berorganisasi terasa lengkap memang, tapi hidup tidak bicara tentang stagnansi terhadap kepuasaan dan kebanggaan yang di dapat. Menabung prestasi tanpa bermanfaat bagi orang lain pun percuma, maka kegiatan berbagi pun dimulai baik pemberdayaan masyarakat dan kegiatan sosial lain. Masing-masing daerah penerima Beastudi Etos memang memiliki desa partner, terkhusus wilayah Semarang yakni Rowosari yang populer dengan Banana Village-nya. Sentuhan di bidang sosial, kesehatan, pendidikan dan ekonomi terwujud dalam kegiatan ringan yang kontinyu pula seperti pengajaran TPQ, senam pagi ataupun kegiatan isidental di hari besar.
          Prestasi etoser memang membuat iri, go internasional, mawapres, pemenang lomba karya tulis ilmiah, lolos PIMNAS, IP 4,00, dan prestasi-prestasi lainnya. Aku sendiri berkaca, “apakah benar aku bisa menjadi etoser yang benar-benar etoser?”, mampu berprestasi dan bermanfaat bagi orang lain. Butuh proses memang dan ambisi hanya akan membinasakan, jalani hidup dengan semangat dan senyum jika salah satu etoser katakan. Kunci yang aku temukan dari kesuksesan para etoser itu adalah keberanian. Keberanian untuk bermimpi dan mencoba, meskipun tahu, ternyata dalam praktiknya butuh himpunan energi yang besar juga. 
            Kondisi kampus tak jauh berbeda, namun ada sedikit pembeda. Proyeksi, mekanisme itu benar-benar terasa. Tidak untuk mengendalikan, pada dasarnya hidup adalah pilihan dan yang memilih adalah yang punya hidup yakni masing-masing individu yang bernyawa. Tiga proyeksi utama dan tinggal memilih ingin berprestasi dan bermanfaat di proyeksi manakah kita. Aku sendiri mulai merasakan atmosfer itu, setiap orang memiliki jalan dan cara tersendiri untuk berprestasi karena indikator prestasi bukan orang lain tetapi diri-sendiri.