Hari itu berjalan sewajarnya, bangun, pergi ke mushola
dan lekas membantu persiapan dagang ibu. Lebih dari sebulan menjalani hidup
sebagai pengangguran pasca pengumuman kelulusan SMA, tekad untuk merajut mimpi
di kota seberang pun terasa kembang-kempisnya. Zona nyaman memang sempat
melenakanku kala itu, begitu nyamannya hingga membuat perjuangan SNMPTN dan
petualangan mendapatkan beasiswa seperti lingkaran de javu yang berkutat di otakku. Lamanya penantian dan tawaran
kerja yang kerap datang semakin berdampak pada keyakinan masa SMA yang terasa pudarnya. “Kuliah tanpa membebani
orang tua”, apakah bisa? Beruntung, pengalaman terburuk masa kecil ternyata
justru ditakdirkan Alloh untuk membangun keyakinan kembali. Masih teringat
sosok yang hingga hembusan nafasnya terakhir berada dalam kondisi
memperjuangkan mimpinya, paman memang masih menjadi inspirasiku saat ini. Tapi
bukan cerita melankolis masa lalu yang ingin aku diskripsikan disini.
Hingga bangunan puing-puing keyakinan itu kokoh kembali,
aku mulai sadar bahwa kolaborasi kondisi saat itu sungguh indah untuk dikenang.
“Selamat mbak, sampeyan lolos SNMPTN dipilihan pertama”, sms dari salah satu
temanku itu memunculkan rasa ketidakpercayaan yang terasa jelas di hati. Hingga
esok pagi, enam serangkai yang termasuk aku di dalamnya memutuskan untuk
memastikan informasi di sudut warnet yang lama nian proses loadingnya. Benar saja “Aku diterima di fakultas Peternakan
Universitas Diponegoro”, bingung harus berperasaan seperti apa ketika aku tahu tak
satupun dari sahabatku diterima di Universitas yang dituju. Karaguanku yang
muncul mulai bergelayut kembali saat orangt tua pun tak sepakat dengan jurusan
yang aku pilih. Alasan prospek kerja lah, biaya lah, inilah, itulah, segenap
alasan dipaparkan secara jelas oleh orang tuaku hanya untuk melunturkan
keyakinan yang mulai ku bangun kembali. Aku yang terkenal keras kepala di
keluarga memang tidak terlalu mencernanya, hingga harus menggurus semuanya
sendiri tanpa sepengetahuan mereka pun aku laksanakan. Satu alasan, bukan
karena aku ingin membangkang, tapi
inilah caraku, tak perlu mereka meneteskan air mata untuk jatuh bangunku
memperjuangkan impian, yang aku butuhkan hanya senyum bahagia dan tulus dari
mereka. Asal tak jadi beban bagi mereka maka itu yang aku pilih, maklum darah
muda masih panas mengalir di dalam tubuhku saat itu.
Penantian kedua mulai terjawab, meskipun harus berkali-kali memastikan. Ucapan “Selamat bergabung dalam keluarga besar BeaStudi Etos Semarang” itu bagai oase di tengah dahaga akan kepastian beasiswa yang aku perjuangkan selama ini. Bolak-balik Semarang tanpa orangtua tahu tujuannya itupun terasa tak memberatkan ketika diingat. Kini aku menyandang dua gelar, mahasiwa UNDIP dan gelar sebagai seorang Etoser. Pijakan kaki untuk pertama kalinya dikampus UNDIP membuat gadis desa sedikit takjub memang, termasuk aku. Meskipun setelah beberapa tahun kemudian terasa biasa, namun berbeda dengan pijakan pertamaku di Asrama Etos Putri. Teman baru yang makin lama seperti keluarga ini tidak akan pernah memunculkan kesan “biasa” meskipun setiap hari bertatap muka, bagiku mereka adalah orang-orang luar biasa setiap harinya karena dari mereka pelajaran-pelajaran berharga ku petik. Di kelilingi orang-orang dasyat membuatku sempat berucap “terimakasih ya Alloh telah membuatku tersesat di jalan yang benar”. Namun berbeda paradigma sekarang, aku tidak pernah merasa tersesat, karena lentera di sekitar sangat jelas menunjukkan jalan.
Penantian kedua mulai terjawab, meskipun harus berkali-kali memastikan. Ucapan “Selamat bergabung dalam keluarga besar BeaStudi Etos Semarang” itu bagai oase di tengah dahaga akan kepastian beasiswa yang aku perjuangkan selama ini. Bolak-balik Semarang tanpa orangtua tahu tujuannya itupun terasa tak memberatkan ketika diingat. Kini aku menyandang dua gelar, mahasiwa UNDIP dan gelar sebagai seorang Etoser. Pijakan kaki untuk pertama kalinya dikampus UNDIP membuat gadis desa sedikit takjub memang, termasuk aku. Meskipun setelah beberapa tahun kemudian terasa biasa, namun berbeda dengan pijakan pertamaku di Asrama Etos Putri. Teman baru yang makin lama seperti keluarga ini tidak akan pernah memunculkan kesan “biasa” meskipun setiap hari bertatap muka, bagiku mereka adalah orang-orang luar biasa setiap harinya karena dari mereka pelajaran-pelajaran berharga ku petik. Di kelilingi orang-orang dasyat membuatku sempat berucap “terimakasih ya Alloh telah membuatku tersesat di jalan yang benar”. Namun berbeda paradigma sekarang, aku tidak pernah merasa tersesat, karena lentera di sekitar sangat jelas menunjukkan jalan.
Awal menjadi maba harus menjalani masa penerimaan
Mahasiswa Baru, ternyata Beastudi Etos Semarang pun menyiapkan perjamuan tak
terlupakan bagi para etoser baru. Air mata yang tak hentinya menetes, maaf saja
bukan karena cengeng, tapi perjalanan spiritual yang di desain meskipun hanya
dengan waktu semalam cukup membuat pencerahan tersendiri bagi orang-orang yang
bisa dibilang amah sepertiku.
Pembinaan harian, pekanan, bahkan tahunan benar-benar kolaborasi permodalan
yang sangat berarti untuk menghadapi hidup yang sesungguhnya, bukan hanya
bicara tentang diri-sendiri. Rancangan desainnya mengkondisikan kita untuk
selalu mengasah kepekaan, bukan sekedar peka rasa tetapi juga peka action.
Permodalan yang sudah diberipun dapat langsung
diaplikasikan dalam jabatanku sebagai seorang mahasiswa. Membuat life mapping, berani menuliskan impian, belajar
berorganisasi terasa lengkap memang, tapi hidup tidak bicara tentang stagnansi
terhadap kepuasaan dan kebanggaan yang di dapat. Menabung prestasi tanpa
bermanfaat bagi orang lain pun percuma, maka kegiatan berbagi pun dimulai baik pemberdayaan
masyarakat dan kegiatan sosial lain. Masing-masing daerah penerima Beastudi
Etos memang memiliki desa partner,
terkhusus wilayah Semarang yakni Rowosari yang populer dengan Banana Village-nya. Sentuhan di bidang
sosial, kesehatan, pendidikan dan ekonomi terwujud dalam kegiatan ringan yang
kontinyu pula seperti pengajaran TPQ, senam pagi ataupun kegiatan isidental di
hari besar.
Prestasi etoser memang membuat iri, go internasional, mawapres, pemenang lomba karya tulis ilmiah,
lolos PIMNAS, IP 4,00, dan prestasi-prestasi lainnya. Aku sendiri berkaca,
“apakah benar aku bisa menjadi etoser yang benar-benar etoser?”, mampu
berprestasi dan bermanfaat bagi orang lain. Butuh proses memang dan ambisi
hanya akan membinasakan, jalani hidup dengan semangat dan senyum jika salah satu
etoser katakan. Kunci yang aku temukan dari kesuksesan para etoser itu adalah
keberanian. Keberanian untuk bermimpi dan mencoba, meskipun tahu, ternyata
dalam praktiknya butuh himpunan energi yang besar juga.
Kondisi kampus tak jauh berbeda, namun ada sedikit
pembeda. Proyeksi, mekanisme itu benar-benar terasa. Tidak untuk mengendalikan,
pada dasarnya hidup adalah pilihan dan yang memilih adalah yang punya hidup
yakni masing-masing individu yang bernyawa. Tiga proyeksi utama dan tinggal
memilih ingin berprestasi dan bermanfaat di proyeksi manakah kita. Aku sendiri
mulai merasakan atmosfer itu, setiap orang memiliki jalan dan cara tersendiri
untuk berprestasi karena indikator prestasi bukan orang lain tetapi diri-sendiri.