Juli 2002. Peristiwa yang mengantarkanku pada
pembelajaran ikhlas yang sejatinya selalu bersemayam di dalam hati
masing-masing insan. Begitu lelapnya rasa itu bersemayam hingga terkadang tak
mampu terbangun tepat pada saat dia dibutuhkan.
Pengalaman menyejarah mengenai sosok yang menginspirasi
sepanjang riwayat hidup. Beliau paman yang baik, lahir dari keluarga yang
sederhana dari enam bersaudara. Pendidikan formal, pendidikan salah satu
pesantren di daerah Jawa Timur, semua dilaksanakan dengan sewajarnya. Prinsip
untuk hidup tanpa menjadi beban bagi orang lain membuat beliau lekas mencari
pekerjaan yang sekiranya dapat menghasilkan uang untuk biaya hidup. Sales keliling.
Transformasi ilmu perjuangan itu mulai nikmat mengalir di
otakku yang masih kosong. Serasa ganjil dalam kepemahaman kecilku yang amat
dangkal. Sholat, wudhu, Al-Qur’an dan beberapa hal-hal lain yang membuatku
semakin bangga pada beliau.
Seiring berjalannya waktu, langkah petualangan beliau
telah menapaki Jakarta hingga keberuntungan menjadi koki di salah satu restoran
sederhana menghampiri. Warteg. Kenikmatan akan penghormatan sebagai koki itu
diresapi beliau selama bertahun-tahun.
Singkat cerita, beliau mulai nyaman dengan pekerjaannya
sebagai seorang koki. Tapi jangan anggap enteng lelaki yang satu ini, pekerjaan
koki yang mulai memasuki tahap semipermanen harus berkolaborasi kini dengan
beberapa pekerjaan lainnya. Satu tujuan yang menguatkan. Modal pendirian
perusaahan counter yang beliau idamkan.
Tak ada yang tahu darimana segala warisan sifat-sifat itu
mengalir dalam diri beliau. Reparasi segala alat elektronik beliau layani
dengan kemampuan pembelajar cepat. Satu hal yang terlupakan. Istirahat.
Tragedi itu terjadi tepat beberapa hari sebelum menginjak
usiaku yang kesepuluh di tahun 2002. Ketika panggilan perbaikan AC di lantai
tiga salah satu gedung di kawasan Mangga Besar Jakarta beliau terima. Pernah membayangkan rasanya jatuh dari lantai tiga sebuah gedung bertingkat di Ibu
kota?
Raungan sirine siang itu, gerombolan orang yang
berdesak-desakkan hingga membuat rumah seakan tak memiliki celah untuk bergerak
bebas. Tangisan yang terpecah dan meraung dari setiap sudut mata angin. Kesadaranku
masih belum menemukan keyakinannnya untuk percaya bahwa sosok yang keluar dari ambulance berselimut kain ketika itu
adalah paman yang dulu mengajariku banyak hal. Menyesal. Aku bahkan tidak
melihat wajah terakhir beliau hanya dengan satu alasan ketidaktegaan.
Samar. Tapi aku mampu merasakannya. Semangat beliau,
aliran naluri berbaginya, cara beliau menikmati hidup hingga saat ini masih
membuatku iri. Setidaknya satu hal yang ku petik dari perjalanan beliau selama
ini. Waktu.